Minggu, 28 November 2010

PESTISIDA ORGANIK, PESNATOR (Pestisida Nabati Organik)

 PESNATOR, merupakan insektisida organik terobosan baru terbuat dari bahan-bahan alami yang tidak membunuh hama tetapi bersifat ANTIFIDEN (khususnya ulat dan lalat buah tidak mau memakan tanaman ) akibat RASA tanaman yang tidak disenangi oleh hama.

Keunggulan  PESNATOR
  • Terbuat dari bahan alami, ramah lingkungan dan tidak menyebabkan resistensi (kekebalan) terhadap hama.
  • Tidak bersifat fititoksik, sehingga aman bagi tanaman.
  • Dapat mengendalikan hama seperti: LALAT BUAH dan ULAT, pada tanaman pangan, sayuran, palawija dan perkebunan.
  • Tahan hujan, 1 jam setelah aplikasi hujan turun, tetap efektif.
Petunjuk Penggunaan
  • Kocok dahulu sebelum digunakan
  • Dosis anjuran 3-5 cc/ liter air
  • Dapat dicampur dengan insektisida dan fungisida organik kecuali bakterisida
Hasil Uji terap pada tanaman kubis:

 PESNATOR, diujikan untuk mengendalikan hama ulat kubis
Tanaman tampak tidak terserang hama ulat
(insektisida kimia yang digunakan hanya satu kali)
Tampak tanaman sangat subur dan tidak terserang oleh ulat

Bisa dilihat pada bagian lain urut-urutan aplikasi  PESNATOR
Ulat tidak mau memakan tanaman kubis akibat RASA khas yang tidak di senangi hama
Tanaman kubis mulai membentuk Crop, tanaman tampak mulus

Uji coba  PESNATOR untuk mengendalikan hama LALAT BUAH pada tanaman cabe.

Kondisi awal tanaman setelah dua kali aplikasi  PESNATOR
 Tanaman mulai tampak berbuah dan tidak terlihat adanya serangan LALAT BUAH
Pengambilan gambar dari sisi lain
Lokasi Uji Terap di Kp. Tanjung Kamuning Tarogong Garut
 Selain tidak nampak serangan hama LALAT BUAH tanaman juga terlihat subur
Uji Coba  PESNATOR pada tanaman Kacang-kacangan

Daun kacang tampak subur dan tidak ada gejala bekas serangan ULAT.  Untuk mengendalikan hama ini kami menggunakan PESNATOR,yang dikombinasikan sedikit (tidak lebih dari 10 %) insektisida kimia.


Hasil berikutnya pemantauan bulan November.  Bisa diperhatikan lebarnya daun,ketinggian tanaman dan tampak buah yang lebat dibalik rimbunnya daun.
 Tanaman sangat tinggi dan juga berbuah lebat.  Tanaman ini asli lho,selain masalah pengendalian hama,insektisida organik karena terbuat dari bahan-bahan alami/tumbuhan,maka bisa juga sekaligus sebagai PUPUK DAUN,PUPUK BUAH DAN ZAT PENGATUR TUMBUH.  Hal ini tidak kita dapatkan pada produk-produk kimia,yang semuanya tersedia dalam kemasan yang terpisah.

KEGIATAN PT. KEMBANG LANGIT ,DIKLAT KADER KONSERVASI DAN WIRAUSAHA PEMUDA

Dirut PT. Kembang Langit Bapak Rusli Gunawan SW (paling kanan) sedang memberikan pelatihan
pada acara Diklat Konservasi 
 Jauhar IPB (memegang microphone) dan Ir. M. Idris sedang memberikan materi tentang pertanian organik dilahan konservasi hutan
Para peserta pelatihan dengan seksama menyimak pemaparan materi


Jauhar IPB sedang berdialog perihal pertanian organik,baik dari bawah,pupuk organiknya maupun dari atas,perihal pestisida organiknya. Sedangkan sebagai sarana pendukung untuk pestisida organik tersebut kami dari PT. KEMBANG LANGIT menggunakan produk PROTEK-tan,  PESNATOR 
,   POCANIL dan PUPUK CAS di depan Bapak Iwan Sulanjana (Mantan Pangdam III Siliwangi dan pemilik SOS/ SAUNG ORGANIK SULANJANA)
Jauhar IPB (tengah berkaos hitam hijau) sedang berdialog perihal pertanian Organik,dengan Bapak Iwan Sulanjana



KERITING DAUN ,ULAT DAN LALAT BUAH ( pada Cabe)


Hasil Uji terap lanjutan pada tanaman cabe rawit
Tanaman sudah panen berulang ulang kali. Tunas dan buah terus berkembang

(tinggi tanaman hampir 3 meter)

Tanaman tumbuh subur,tampak tidak terserang keriting daun,setelah secara rutin disemprot dengan PROTEK-tan dan PESNATOR
Pertumbuhan dan tinggi tanaman mencapai kurang lebih 2.5-3 meteran
Untuk mendapatkan Hasil yang optimal,tentunya perlu upaya perlakuan ,baik dari atas melalui penyemprotan,maupun dari bawah lewat pengecoran.  Hal yang biasa terlupakan oleh petani adalah upaya untuk mengatasi keriting daun,misalnya,petani hanya fokus menggunakan akarisida/insektisida saja,tanpa memperhatikan kondisi tanah. Hal ini tentunya kurang tepat,karena inti permasalahan dari keriting daun adalah,berkurangnya cairan daun.  Kurangnya cairan daun ini,diantaranya adalah akibat isapan hama trips dan tungau,selain itu faktor cuaca yang terik dan yang ketiga adalah akibat perlakuan tanah,baik dari pengairan maupun pemupukan yang tidak sesuai dengan "keinginan" tanaman.  
Oleh karena itu upaya untuk memperbaiki kondisi tanah sangat diperlukan untuk,mempercepat pulihnya tanaman dari masalah keriting daun.  Kondisi tanah yang GEMBUR,tentunya akan membuat perakaran tanaman berkembang secara pesat,hal ini tentunya secara otomatis akar tanaman mensuplai makanan dari tanah "KEATAS".  Suplai makanan yang cukup dari "bawah",tentunya mempercepat pemulihan gejala keriting daun cabe.
Namun apa yang tejadi pada pola pertanian kita saat ini? Petani kita tentunya,sudah merasa memberikan makanan yang cukup ke akar tanaman,hanya permasalahannya, SUDAH TEPATKAH POLA MAKAN/PUPUK TERSEBUT? Hal ini kami pertanyakan sebab,faktanya dilapangan,kenapa justru  KERITING DAUN ,tidak pulih setelah pemberian PUPUK SUSULAN YANG BERUPA PUPUK KIMIA,MALAHAN BERTAMBAH BANYAK?
Jadi sepertinya ada yang salah dalam pemberian PUPUK DARI BAWAH INI.
 Sebagai ilustrasi bisa kami uraikan sebagai berikut:
1.  Pemberian PUPUK NITROGEN,yang rasanya dingin seperti ES,sedengkan ES biasanya digunakan sebagai pengawet makanan,karena semua bakteri dan jamur, menjadi TIDAK AKTIF.  Coba kita bayangkan apabila semua bakteri PENGURAI dan jamur yang menguntungkan DALAM TANAH,TIDAK AKTIF,setelah diberi es,apa jadinya? Ilustrasi tentang pupuk ES/NITROGEN ini,bisa juga kita ilustrasikan sebagai penyebab 'PANAS DALAM',sehingga daun KAKU-KAKU dan MENGERAS,seperti halnya pada orang yang panas dalam biasanya BIBIRNYA  KAKU DAN PECAH-PECAH.

2.  Pemberian pupuk PHOSFAT (yang bentuknya SEPERTI SEMEN) apabila dicampurkan dengan KALSIUM/KAPUR,APA JADINYA TANAH APABILA DIBERI SEMEN DAN KAPUR? Menjadi bahan ADONAN UNTUK MEMBUAT FONDASI BANGUNAN ,BUKAN?
3. Pemberian KCL,yang merupakan bagian dari unsur GARAM (NaCl).  Kenapa ikan ASIN,menjadi awet?hal ini tentunya karena bakteri dan jamur nya tidak berkembang.  Apabila pupuk "GARAM" ini diberikan pada tanah dengan dosis yang tidak terkontol pada setiap musim tanam,apa jadinya dengan tanah kita? Tentunya Bakteri pengurai dan jamur yang menguntungkan menjadi tidak aktif pula.
4. Pemberian pupuk BELERANG/SULFUR, hal ini tentunya sama dengan pemberian ABU VULKANIK gunung MERAPI,SECARA TERUS MENERUS.  Anda tentunya masih ingat pada saat terjadinya letusan Gunung Merapi dan Gunung Bromo,yang menyemburkan abu vulkanik berupa kandungan BELERANG TINGGI,hampir sebagian tanaman termasuk cabai rusak. Sedangkan pemberian pupuk yang mengandung belerang secara terus menerus pada tanah,akibatnya tanah semakin asam.  
Kami hanya mencoba menguraikan perihal dampak pupuk kimia dengan BAHASA KAMI yang kami upayakan sesederhana mungkin,semoga kita ,petani di Indonesia ,lebih bisa menangkapnya dan kemudian menyadari efek dari pemberian pupuk kimia tersebut.
Jadi  mungkin anda menjadi bertanya-tanya,pupuk apa saja kalau begini yang bisa diberikan pada tanaman cabe?Sebagai jawabannya silahkan anda menyimak,paparan-paparan yang kami tampilkan secara berkesinambungan.  Tidak lupa pula pada setiap bahasan kami tampilkan hasil-hasil aplikasi kami dilapangan.  



Berikutnya,Uji terap PROTEK-tan secara tumpang sari pada tanaman Petcay, Tomat dan Cabe kriting
Pengamatan dilakukan sejak tanaman usia +/- 1 minggu
Sebagai patokan bisa dilihat tunggul/ potongan kayu diatas
Usia tanaman +/- 1,5 Bulan
Tanaman petcay nya telah di panen,berikutnya pemantauan pada tomat dan cabe keriting
Patokan tunggul kayu ,sebagai patokan bahwa kami tidak pindah dan memilih tanaman yang bagus- bagus saja.  Secara intensif kami memantau pertumbuhan tanaman dengan tehnik yang kami kembangkan
"HABIS TOMAT TERBITLAH CABE"
Foto dibawah ini tanaman cabe setelah usia +/- 3,5 Bulan
Pertumbuhan sangat pesat dan buah lebat
 PROTEK-tan dan PUPUK  "CAS"  dicorkan ke akar secara langsung bersama pupuk kandang,setelah dimatangkan terlebih dahulu.
Dengan kerja keras, dan menganalisa "keinginan tanaman",baik secara disemprot maupun di Cor kan,akhirnya hasilnya , sangat memuaskan petani. Dengan hasil yang demikian,tentunya Kami ikut Senang ,Teman....

Bisa dilihat,tingginya tanaman dan lebatnya buah
( Patokan pengambilan gambar masih tetap,adanya Tunggul /potongan kayu di bawah tanaman )
Tanaman setelah berusia +/- 4,5 Bulan
Tetap subur dan  menggunakan insektisida kimia yang sangat sedikit,kurang dari 10 %
Dengan sistem penerapan PROTEK-tan dan PESNATOR,secara disemprot dan dicorkan,hasilnya
Semoga bisa menjadi salah satu solusi pertanian kita.




Berikutnya,Uji terap yang kami lakukan dilokasi Tanjung Kamuning Tarogong Garut
dengan sedikit sekali penambahan insektisida kimia

 Hasil berikutnya tanaman tampak tumbuh subur tidak terserang Trips
Lokasi pengambilan gambar,kami upayakan tetap. Sebagai patokan bisa di lihat,adanya rumah di sebelah kanan atas kebun

Tampak pertumbuhan tanaman serentak dan rata,dan yang terpenting tidak terkena keriting daun dan lalat buah. Setelah beberapa kali aplikasi PROTEK tan dan PESNATOR

 
Tinggi tanaman melebihi tinggi orang dewasa dan buah sangat lebat
sampai tunas-tunas bagian atas 
Pengambilan Gambar ,masih tetap dari sudut yang sama

Sekali lagi,tinggi tanaman melebihi tinggi orang dewasa,dan bisa anda lihat buah lebat
AMAN DARI KERITNG DAUN DAN LALAT BUAH
BELIEVE IT OR NOT...!!!!

Jumat, 26 November 2010

PENGENDALIAN HAMA SECARA TERPADU / PHT (JAMBORE) PADA TANAMAN HORTIKULTURA, dengan Wagub Bapak Dede Yusuf , di Garut Tanggal 24 November 2010

Konsep dan Strategi penerapan PHT
 
PHT merupakan suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada dasar pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agro-ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai sasaran teknologi PHT adalah : 1) produksi pertanian yang tinggi, 2) Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) Populasi OPT(organisme penggangu tanaman) dan kerusakan tanaman tetap pada arah secara ekonomi tidak merugikan dan 4) Pengurangan resiko pencemaran Lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan (Anonimous, 2004 ).

Konsep PHT muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional, yang sangat mengutamakan dalam penggunaan pestisida kimia. Kebijakan ini mengakibatkan penggunaan pestisida kimia oleh petani yang tidak tepat dan berlebihan, dengan cara ini selain dapat meningkatkan biaya produksi juga mengakibatkan dampak samping yang merugikan terhadap lingkungan dan kesehatan petani itu sendiri maupun masyarakat secara luas.
    Direktur Utama PT. Kembang Langit, Bapak Rusli Gunawan (Jaket Hitam) berdampingan dengan Wagub Jabar, Bapak Dede Yusuf,dalam acara JAMBORE PHT tersebut
    1.   Jauhar IPB (Baju Biru) sedang berdialog perihal konsep pestisida organik, dengan Wagub Jabar, Bapak Dede Yusuf (foto bawah)
    .
    2.  Jauhar IPB sedang berdialog dengan Bp. Dede Yusuf,dan disebelahnya Bp.Dr.Ir. Swastiko Priambodo dosen HPT-IPB (berbatik coklat) mendampingi
    3.  Bapak Dede Yusuf dan Bapak Dicky Candra (Wakil Bupati Garut) dengan seksama mengamati hasil uji terap PROTEK-tan, PESNATOR dan POCANIL.
     Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT), berupaya  memaksimalkan penerapan berbagai teknik pengendalian OPT ramah lingkungan secara komprehensif dan mengurangi penggunaan pestisida secara tepat. Pengendalian hayati merupakan salah satu komponen penting dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian hayati adalah pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan serangga hama atau penggunaan agens antagonis untuk mengendalikan patogen tanaman. Pada dasarnya, setiap serangga hama mempunyai musuh alami yang dapat berperan dalam pengaturan populasinya. Musuh alami serangga hama adalah komponen utama dari pengendalian alamiah, yang merupakan bagian dari ekosistem dan sangat penting peranannya dalam mengatur keseimbangan ekosistem tersebut. Musuh alami yang berperan dalam pengendalian serangga hama terdiri dari patogen serangga, predator, dan parasitoid.
     
    4.  Acara Jambore PHT ini juga dihadiri oleh Bpk. Dirjen Hortikultura DEPTAN dan Bpk. Pembantu Rektor IPB (bawah)
    Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan saat ini  telah merubah keseimbangan ekosistem yang ada diantaranya : hama sasaran menjadi lebih tahan/RESISTEN, MAKIN PUNAHNYA MUSUH ALAMI serta menurunnya jumlah jasad renik dalam tanah sebagai dekompositor/pengurai benda mati menjadi BAHAN ORGANIK yang diperlukan untuk kesuburan tanah. Bila keadaan tersebut dibiarkan maka bukan tidak mungkin pada ekosistem tanaman tersebut populasi hama maupun penyakitnya semakin meningkat sebagai dampak dari penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Disadari atau tidak, dampak pengendalian kimiawi yang dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan aspek lingkungan sangat berpengaruh besar pada keseimbangan ekosistem.

    Dalam acara ini,tampak tengah Bp. Dede Yusuf,disebelah kanan beliau Pembantu Rektor IPB dan sebelah kirinya Wakil Bupati Garut
    Kami dari P.T. KEMBANG LANGIT , menerapkan suatu konsep pengendalian hama,yang mengacu pada KONSEP-KONSEP PHT diatas. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah mengembangkan TEHNOLOGI PENGENDALIAN HAMA YANG RAMAH LINGKUNGAN.
    Semoga harapan kita bersama,PHT (PENGENDALIAN HAMA SECARA TERPADU) ,yang selama ini,menurut kami baru sekedar KONSEP,kedepannya STRATEGI PENGENDALIANNYA dapat di TERAPKAN 
    khususnya di Garut dan pada umumnya untuk  seluruh petani,
    DI BUMI PERTIWI TERCINTA